Suroboyo Bukan Ikan dan Buaya

Profesor Henricus Supriyanto dari Malang selain menanggapi soal kata-kata pisuhan memfokuskan makalahnya pada tradisi lisan pada seni pertunjukan di provinsi Jawa Timur dengan fokus “Cerita Panji”.

Hal itu dikemukakan Profesor Henricus dalam diskusi mengenai Potensi Seni Tradisi Lisan Jawa Timur yang berlangsung di Gedung Cak Durasim, Taman BudayaJawa Timur, Selasa (13/9) lalu.

Menurut wakil ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jatim ini, tradisi lisan dapat menjadi sumber pembelajaran sejarah. Cerita Panji selama ini nyaris tidak banyak dikenal.

"Padahal cerita itu populer sebagai bahan baku cerita dalam seni pertunjukan wayang beber, wayang topeng dan berbagai kesenian lainnya," ungkapnya.

Dongeng dan Cerita Panji itu susastra lisan yang memiliki banyak keragaman. Masyarakat yang kenal dengan dongeng Panji Laras, Timun Emas, Keong Emas, itu semua adalah varian cerita Panji.

Sementara itu Penulis buku-buku spesial kota kuno, Dukut Imam Widodo, mengakui bahwa banyak cerita lisan yang dia dapatkan saat menyusun buku Hikayat Surabaya, yang didapat dari sesepuh.

Lantas muncul gugatan dari Subiyantoro, seniman yang juga dalang itu, mengapa insititusi pendidikan selama ini kurang berperan melestarikan tradisi lisan? Bahwa proses pewarisan tradisi lisan harus didukung penelitian yang aplikatif.

Tapi yang selama ini terjadi, gara-gara sinetron dan TV anak-anak menjadi kehilangan bahasa lokal sebagai bagian penting dari tradisi lisan. “Lembaga pendidikan bertanggungjawab dalam pelestarian tradisi lisan,” tegas budayawan dari Malang, M. Soleh Adipramono.

"Kita banyak kehilangan teka-teki, banyak diracuni lagu-lagu cinta yang cengeng,” sambung Ayu Sutarto. Juga telah terjadi pembodohan, bahwa kata “Suroboyo” itu bukan bersal dari ikan Sura dan Buaya, itu tidak ada dalam khasanah perikanan. Ini pembodohan. Yang betul adalah Suro adalah Wani, Boyo adalah bahaya. Artinya, berani menghadapi bahaya.

Sedangkan Sutamat Arybowo, lebiha banyak memaparkan mengenai pentingnya tradisi lisan sebagai kajian yang perlu diseriusi, Bahwa tradisi lisan itu sudah menjadi sumber data ilmiah yang diakui keabsahannya. Bukan lagi hanya bersandar pada peninggalan arkeologi dan teks tertulis.

Untuk itu ATL sudaha bekerjasama dengan tujuh PTN di Indonesia untuk memberi beasiswa S-2 dan S-3 mengenai Kajian Tradisi Lisan.

Menurut Sutamat, perlu dilakukan penyelamatan karena sekarang ini ahli tradisi lisan hanya tinggal kurang dari hitungan jari satu tangan saja. ATL sangat berkepentingan melakukan interpretasi tradisi lisan dengan paradigma baru, karena tradisi lisan merupakan kekuatan kultural untuk membangun peradaban. Tradisi lisan adalah *Intangible Cultural Heritage *yang diakui

Unesco. Masyarakat perlu ikut terlibat mempertahankannya, bukan hanya menjadi tugas kalangan akademis.[ted] Sumber: beritajatim.com



MATUR SUWUN CAK !! :
Suroboyo Bukan Ikan dan Buaya
Semoga Artikel Bonek ini bermanfaat, sesuai dengan kriteria yang anda cari di Suroboyo Bukan Ikan dan Buaya






0 Tulis Komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons
//PART 2