Rancang Pasukan Buru Sergap ala Niac Mitra

Green Force 2008 yang diinginkan manager coach Freddy Muli adalah tim yang mirip Niac Mitra di masa jayanya dulu. Pemainnya cerdas dan bermobilitas tinggi 2 x 45 menit


SABTU petang 23 Februari, Freddy Muli tiba di rumahnya, Jalan Yos Sudarso VI/8-A, Sidoarjo. Mobil Honda Jazz abu-abu muda baru saja diparkir di halaman rumahnya yang berpagar tinggi. Senyumnya merekah ketika kami nongol di pintu masuk pagarnya. Dia baru saja datang dari markas Persebaya.

"Apa kabar, Mbah (Kakek, Red)?" sapanya ramah. Dia suka menyapa kami dengan panggilan Mbah.

"Selamat ya, balik kandang lagi di Surabaya," jawab kami.

Kami berdua lantas duduk santai di bangku panjang di teras rumahnya. Dua cangkir kopi menemani plus rokok merek yang sama, produksi Kota Kediri. Di situlah kami berdiskusi kecil tentang Green Force 2008 yang arek-arek inginkan.

Yang pasti, Green Force 2008 harus lebih baik dibanding Green Force 2006 yang berhasil dia antarkan ke takhta juara Divisi Satu. "Saya menginginkan Green Force 2008 bisa seperti Niac Mitra yang menjuarai Galatama 1980, 1981, dan 1987," tuturnya. Selain cerdas, para pemainnya harus memiliki speed, power, dan mobilitas tinggi sepanjang 2 x 45 menit. "Sebagus apa pun skill individu pemain, tak ada artinya bila tak memiliki ketiga elemen itu."

Itulah salah satu kunci suksesnya bersama PSMS Medan mengempaskan tim favorit Persipura Jayapura dan menembus final Divisi Utama 2007. "Doakan saya bisa melakukan yang lebih baik untuk Green Force 2008," pintanya. Dia ingin mendesain tim buru sergap berpola 4-4-2 yang tak membiarkan lawannya berlama-lama menguasai bola, dan tak membiarkan tim lawan mengembangkan permainan. Fisik prima, stamina prima, daya tahan, dan endurance tinggi sangat diperlukan bagi semua pemain.

* * *

Apa tanggapannya terhadap kecemasan para pemain muda yang merasa terancam bakal dibangkucadangkan bila dia jadi pelatihnya? "Ah, janganlah cemas berlebihan. Buktinya di PSMS saya mengorbitkan young gun Andika Putra," ujarnya.

Komposisi pemain yang dia inginkan, 60 persen pemain senior + 40 persen pemain muda. "Kayaknya saya perlu mempertahankan Lucky Wahyu, Arif Arianto, dan beberapa pemain muda lain. Yang pasti, saya akan memprioritaskan pemain yang ada dulu," jelasnya.

Freddy punya cara tersendiri untuk mematangkan pemain muda. Dia lebih suka menggarap secara bertahap agar matang luar-dalam (skill dan mental). Dia menghindari model karbitan yang menghasilkan pemain muda yang mungkin skill oke, tapi mental belum siap. Gampang puas diri, angkuh, dan mudah tergoda kehidupan malam karena punya uang banyak.

Soal perburuan pemain, mantan stopper Perkesa 78 Sidoarjo dan Niac Mitra Surabaya itu menunggu tersedianya dana segar. Sudah punya pemain incaran? "Tunggu dulu. Peluru (dana, Red) ada, baru saya katakan," elaknya.

Yang jelas, Persebaya menghadapi dua kemungkinan. Bila tertolong oleh aturan FIFA, mereka akan menikmati kompetisi Superliga edisi perdana. Tapi jika tidak, mau nggak mau harus melata di level Divisi Utama. Apa pun yang terjadi, Freddy mengemban misi utama, mengembalikan kepercayaan dan kebanggaan arek-arek Suroboyo terhadap Persebaya. Tugas menantang inilah yang menyebabkan dia rela mengabaikan tawaran kontrak PSM dan Persija yang jauh lebih tinggi. Selain itu, dia ingin dekat dengan istri dan anaknya di Sidoarjo.

Kalau Divisi Utama, persiapannya lumayan mepet. Diperkirakan Mei mendatang mulai diputar. Tapi, kalau Superliga, masa pembentukan dan persiapan tim lumayan longgar. Dia pun masih sempat mengikuti kursus pelatih A-Lisence AFC selama sebulan. Sebab, Superliga 2008 dimulai Juli.

* * *

Dia lantas bercerita tentang suka duka bersama PSMS. Bagaimana sedihnya para pemain PSMS yang nggak menerima gaji tiga bulan di pertengahan kompetisi. Bagaimana prihatinnya menerima bonus kemenangan yang kecil.

Bonus terbesar untuk seluruh personel tim hanya Rp 150 juta, ketika PSMS menumbangkan Persipura di semifinal. Itu gara-gara PSMS tak punya dana lagi setelah petingginya terjerat kasus korupsi.

Dalam situasi semuram itu, dia harus rajin memotivasi para pemain. "Memang, sekarang kita sengsara. Tapi, bila kalian semua berhasil membuktikan kejayaan Medan di babak Delapan Besar, masa depan kalian akan lebih baik. Harga jual kalian akan tinggi," kisahnya tentang cara memotivasi Mahyadi Panggabean dkk.

Bukan hanya itu. Dia juga memoles tiap pemain. Misalnya, kiper Markus Horison yang lemah dengan bola-bola bawah. Dia sendiri yang men-drill Markus dengan berbagai macam tendangan satu jam nonstop dalam seminggu. Hasilnya, Markus tampil luar biasa.

Bahwa di final PSMS kalah 1-3 dari Sriwijaya FC di perpanjangan waktu, itu karena timnya bermain 10 orang. Yang penting, dalam 2 x 45 menit PSMS bisa menahan seri 1-1, dan membuat kubu Sriwijaya berdebar-debar. Versi bursa taruhan, laga 2 x 45 menit itulah yang dihitung.

Dalam kondisi tim seprihatin itu, dia sangat bahagia bisa mengantarkan PSMS ke final menghadapi Sriwijaya FC yang serbawah. Kini, bersama Green Force 2008, dia berharap kondisi yang lebih baik dan kondusif. Jabatan manager coach yang diembannya adalah tantangan lain yang menarik. Semoga sukses, kawan lamaku. Amin



MATUR SUWUN CAK !! :
Rancang Pasukan Buru Sergap ala Niac Mitra
Semoga Artikel Bonek ini bermanfaat, sesuai dengan kriteria yang anda cari di Rancang Pasukan Buru Sergap ala Niac Mitra






2 Tulis Komentar:

Anonim mengatakan...

Mantab Cak, semoga persebaya makin jaya dengan pelatih yg mantab dan kucuran dana yg lancar. Ayo kembalikan Persebaya ke masa jayanya

The Blue Prince mengatakan...

Alhamdulillah Semoga dengan dana yang dimiliki oleh persebya saat ini bisa membawa kembali kejayaan persebaya.
Persib dan persebaya 2 tim legendaris yang membawa nama wilayah barat dan wilayah Timur
dan semoga kita bisa bertemu lagi.
jabat erat persahabatan ini
by bobotoh persib dan viking
admin POF

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons
//PART 2